SuaraSurakarta.id - Jayabaya terkenal dengan ramalan-ramalannya untuk masa depan Indonesia. Banyak ramalan dari raja kediri itu benar-benar terjadi.
Lalu siapa sosok Jayabaya? Tak banyak orang yang mengetahui Jayabaya disebut keturunan Arjuna yang memimpin Kerajaan Kediri.
Menyadur dari Solopos.com, Sosok Jayabaya merupakan salah satu raja yang membawa Kediri ke zaman puncak kejayaan Kerajaan Kediri. Sri Jayabaya berkuasa sekitar Tahun 1135 Masehi sampai 1157 Masehi.
Dia memiliki gelar Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya Sri Warmeswara Madhusudana Awataranindita Suhtrisingha Parakrama Uttunggadewa.
Saat berkuasa, Jayabaya menggunakan strategi untuk mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya. Dengan strategi tersebut, sektor pertanian dan perdagangan berjalan dengan maksimal.
Sementara ekonomi rakyatnya pun terjamin. Zaman Jayabaya yang juga sang pengusa Kediri dikenal dengan masa keemasan karena kekuasaanya meluas hingga seluruh Pulau Jawa dan Pulau Sumatra.
Dikutip dari laman resmi Pemkot Kediri, Senin (20/12/2021), Babad Tanah Jawi dan Serat Aji Pamasa menyebut Jayabaya merupakan titisan Dewa Wisnu. Sosok Jayabaya diungkap memimpin Negara Widarba dengan Ibu Kota bernama Mamenang.
Jayabaya memiliki ayah bernama Gendrayana, yang merupakan putra Yudayana. Kakek Jayabaya itu adalah putra dari Abimanyu. Sedangkan Abimanyu merupakan putra dari Arjuna dari keluarga Pandawa.
Raja Jayabaya sang penguasa Kediri memiliki Permaisuri bernama Dewi Sara. Sang raja memiliki empat anak bernama Jayaamijaya, Dewi Pramesti, Dewi Pramuni dan Dewi Sasanti. Jayaamijaya kemudian menurunkan raja-raja di Tanah Jawa. Kerajaan seperti Majapahit dan Mataram Islam dikuasai keturunan Jayaamijaya.
Baca Juga: RPJMD Kabupaten Lebak 2019-2024 Diubah, Ini Penyebabnya!
Sementara Dewi Pramesti menikah dengan Raja Astradarma dari Yawastina. Keduanya dikaruniai anak bernama Anglingdarma yang kemudian menjadi Raja Malawapati.
Salah satu ramalan Jayabaya yang populer yaitu kedatangan para penjajah kulit putih dan kulit jagung. Dia menulis ramalan itu pada masa Kerajaan Kediri periode 1051 Masehi hingga 1062 Masehi.
Ramalan itu berisi Pulau Jawa kelak akan diperintah bangsa kulit putih, dan kemudian dari arah utara akan datang bangsa Katai yang berkulit kuning seperti jagung dan bermata sipit.
Pemerintahan bangsa berkulit kuning pun berhasil menguasai Pulau Jawa, namun tidak bertahan lama atau hanya seumur jagung. Sementara Bangsa Berkulit Putih atau Belanda di bawah kepemimpinan Cornelis de Houtmen berhasil mendarat di Banten pada 1596. Belanda kemudian menguasai Indonesia selama 350 tahun dan berakhir pada 1942.
Kulit putih lain yaitu Bangsa Inggris yang pernah menguasai Pulau Jawa pada 1811 hingga 1816. Pemerintahan Inggris tidak seperti Belanda yang berkuasa ratusan tahun. Inggris kemudian memilih mengembalikan kekuasaanya kepada Belanda pada 19 Agustus 1816.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi HP POCO RAM Besar dan Kamera Bagus, Cek di Sini!
- Promo Alfamart Hari Ini 30 April 2026, Tebus Suka Suka Diskon 60 Persen
- Heboh Lagi, Ahmad Dhani Klaim Punya Bukti Perselingkuhan Maia Estianty dengan Petinggi Stasiun TV
- 5 Cushion Matte untuk Menutupi Bekas Jerawat dan Noda Hitam, Harga Terjangkau
- Meledak! ! Ahmad Dhani Serang Maia Estianty Sampai Ungkit Dugaan Perselingkuhan dengan Petinggi TV
Pilihan
-
Dibayar Rp50 Ribu Sebulan, Guru Ngaji di Kampung Tak Terjamah Sistem Pendidikan
-
10 Spot Wisata Paling Hits di Solo 2026: Paduan Sempurna Budaya, Estetika, dan Gaya Hidup Modern!
-
7 Sabun Mandi Cair Wangi Mewah yang Bikin Rileks Setelah Pulang Kerja, Ada yang Mirip Aroma Spa
-
Mantan Istri Andre Taulany Dilaporkan ke Polisi, Diduga Aniaya Karyawan
-
Stasiun Bekasi Timur akan Kembali Beroperasi Lagi Siang Ini
Terkini
-
10 Spot Wisata Paling Hits di Solo 2026: Paduan Sempurna Budaya, Estetika, dan Gaya Hidup Modern!
-
Jeritan Hati Pemulung Solo, 30 Tahun Mengais Rezeki, Kini Terancam Terusir
-
Jelajah Kuliner Solo Raya: 3 Ayam Goreng Legendaris, dari Favorit Presiden hingga Ramah di Kantong
-
Investasi Bodong Berkedok Koperasi: Bahana Lintas Nusantara Dipolisikan, Kerugian Capai Rp4 Miliar
-
Sudirman Said: Konflik Kepentingan Jadi Akar Masalah Lemahnya Ketahanan Energi Nasional