SuaraSurakarta.id - Peringatan dini bencana merupakan elemen penting dalam membangun kesiapsiagaan di tengah masyarakat apalagi dengan semakin meningkatnya ancaman bencana hidrometereologi. Salah satunya menyasar daerah rawan banjir di kawasan Sungai Bengawan Solo yang pada tahun 2019 mengalami banjir besar, seperti melanda Desa Klumutan.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Madiun melaksanakan gladi untuk menguji sistem peringatan dini banjir di Desa Klumutan, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun, Provinsi Jawa Timur.
Gladi yang dilakukan tepat pada pukul 10.00 WIB ini untuk menguji efektivitas alat peringatan dini yang dipasang di Masjid Al Hidayah (RT 21) dalam memberikan informasi peringatan kepada masyarakat sekitar.
Acara gladi dihadiri oleh Kepala Pelaksana BPBD Madiun M. Zahrowi, Plt Kepala BMKG Wilayah Sawahan Sumber Harto, Muspika Kecamatan Saradan dan Kecamatan Pilangkenceng serta Fasilitator Direktorat Peringatan Dini BNPB.
Sebelum dimulainya gladi, sambutan Direktur Peringatan Dini BNPB yang disampaikan Analis Kebijakan Ahli Muda Aminingrum menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan kegiatan prioritas nasional yang dilakukan setiap tahun. Melalui gladi, kapasitas masyarakat untuk menjadi tangguh dapat ditingkatkan, terutama di bidang peringatan dini.
"Pemilihan daerah dilakukan secara metodis dan sistemik berdasarkan analisis dan koordinasi dengan daerah. Apalagi Desa Klumutan pada tahun 2019 terdampak besar banjir bandang setinggi 3 m yang membuat kurang lebih 94 KK menjadi korban banjir. Oleh karena itu penguatan sistem peringatan dini perlu dilakukan," ujar Aminingrum.
Latihan gladi bertempat di RT 21 di sekitar Masjid Alhidayah yang merupakan titik terendah di Desa Klumutan ketika banjir 2019. RT 21 dan 20 menjadi titik tolak ukur level peringatan yang diinformasikan kepada masyarakat.
Tolak ukur status level peringatan perlu disepakati karena menjadi tanda bagi tim siaga desa dan BPBD untuk melakukan tugas sesuai dengan prosedur tetap yang disepakati bersama.
Selama berlangsungnya gladi terlihat bahwa unit evakuasi tim siaga desa mengalami kesulitan dalam mengevakuasi warga. Unit evakuasi tidak mengarahkan warga ke titik kumpul terdekat sehingga warga tidak memahami titik kumpul. Selain itu, unit dapur umum tidak membagikan makananan karena takut jumlah makanan tidak cukup karena tidak ada pendataan yang dilakukan unit evakuasi.
Baca Juga: Sejarah Kabupaten Madiun, Diwarnai Penaklukan Mataram dan Daftar 27 Bupati
Zahrowi menyampaikan dalam evaluasi gladi bahwa kebutuhan data sangat penting. Menurutnya, pendataan harusnya dilakukan secepatnya, bukan menunggu dan malah menanyakan ke ketua RT.
“Harusnya sudah melekat dalam tugas unit evakuasi. Tentunya hal ini perlu menjadi catatan ke depan,” ujarnya.
Selain itu, ketika evaluasi dengan warga diketahui bahwa bunyi sirine yang tidak ada pembedaan antara level ‘waspada’, ‘awas’, dan ‘siaga’ membuat bingung warga.
“Perlu dibedakan bunyi sirinenya sehingga melalui bunyi itu warga dapat mengingat lebih baik perbedaan level waspada, siaga dan awas. Kalau bunyinya sama walaupun ada suara menyatakan level itu kurang dapat diingat oleh warga. Ini bisa berbahaya bisa jadi ini sirine berbunyi awas tapi warga malah memahaminya waspada. Bunyi sirine harus segara diubah,” tambah Zahrowi saat menyampaikan evaluasi lebih lanjut terkait dengan pelaksanaan gladi.
Aminingrum menyampaikan, "Terkait perubahan bunyi sirine akan dilaporkan kepada pimpinan untuk lebih lanjut untuk segera dibuat penyesuaian agar mudah dipahami masyarakat."
Pada kesempatan itu tim siaga meminta agar pelaksanaan gladi dapat dilakukan setiap bulan agar mereka semakin paham tugas masing-masing.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- 3 Klub Pemain Timnas Indonesia Berhasil Raih Tiket Promosi Musim Ini
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- HP Vivo yang Bagus Seri Apa? Ini Rekomendasi Seri X, V, dan Y Sesuai Kebutuhan
- 4 Rekomendasi Sampo Urang-Aring untuk Menghitamkan dan Menyuburkan Rambut
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
Terkini
-
Jokowi Siap Keliling Indonesia, Ini Daerah yang akan Dikunjungi Pertama
-
Ada Charly Van Houten! CFD Gatsu Ngarsopuro Solo Pecah Dipadati Ribuan Anak Muda
-
Keluh Kesah Perajin Tahu Imbas Dolar, Bahan Baku Terus Naik hingga Takut Mengurangi Ukuran Tahu
-
PNM Siapkan Mental Wirausaha 2.700 Siswa SMK Se-Indonesia Lewat PNM Mengajar
-
Efek Dolar Naik, Pedagang Pasar Naikan Harga Jual hingga Daya Beli Turun